Maret 07, 2015

Pasar Buah Pandaan


Pasar ini terletak persis disamping Komplek Masjid Muhammad Cheng Hoo. Pasar Buah Pandaan ini merupakan pasar tradisional yang menjual khusus buah-buahan dan hasil bumi, serta pernak-pernik, dan juga terdapat warung-warung tempat makan yang ekonomis. Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan "pasar buah" oleh masyarakat sekitar. Tempat ini banyak disinggahi orang-orang dari daerah lain hanya sekedar mencari oleh-oleh untuk kerabat dan sanak saudara saat pulang dari berwisata baik yang dari arah Malang, Surabaya, ataupun orang-orang yang pulang dari Tretes dan tak sedikit juga wisatawan asing yang singgah ditempat ini hanya sekedar ingin melihat daerah Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Lokasinya mudah dijumpai dan dituju karena berada ditepi jalan raya utama pada pertigaan arah menuju Pasuruan, Malang, Surabaya atau sekitar 300 meter dari terminal Pandaan. Dan ada di samping masjid Muhammad Cheng Hoo Pasuruan.

Foto diambil dari beberapa stan pedagang

Duta Wisata Kab. Pasuruan saat bertugas dalam Pembukaan stan baru


November 25, 2014

Tretes Night Run


Setelah sukses dengan acara Bromo Marathon yang digelar 7 September 2014 di sekitar lereng pegunungan Bromo, kini Pemerintah Kabupaten Pasuruan menggelar 'Tretes Night Run 10K'. Tretes Night Run merupakan event unik yang menawarkan sensasi melalui perpaduan olah raga dengan konsep yang berbeda, menarik, sehat dan wisata malam hari yang  digelar di kawasan lereng pegunungan Arjuno-Welirang. 

Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Pasuruan menggelar lomba lari marathon "Tretes Night Run" pada 6 Desember mendatang. Acara ini digelar untuk meningkatkan promosi pariwisata di Tretes, juga bertujuan membersihkan nama Tretes yang dinilai negatif sebagai tempat hiburan sekaligus lokalisasi.

Pengamanan lomba lari sepanjang 10 kilometer ini melibatkan 40 anggota perlindungan masyarakat (Linmas), Hansip serta karang taruna (kartar) dari tiga desa yang dilewati yaitu Desa Prigen, Desa Ledug, serta Desa Pencalukan.

Setiap Peserta akan mendapatkan Racepack berupa :
  •     Jersey
  •     Head/hand Light
100 Finisher pertama setiap kategori (Umum/Pelajar) akan mendapatkan :
  •     T-shirt Finisher
  •     Medali Finisher


Rute Tretes Night Run 10K

Untuk pendaftaran dapat dilakukan pada 20 Nov 2014 - 4 Des 2014.
Tempat Pendaftaran :
Pasuruan
  • Kantor PWI - Jl. alun-alun utara no 6
Pandaan
  • Waroeng Bamboo - Jl. Raya Tamanan No.5
Prigen
  • Pines Garden Hotel - Jl. Ijen 5, Tretes
Jombang
  • Budi Rent Car - Jl. Raden Patah No.17 A (sebelah selatan Radio Citra)
Surabaya
  • Jl. Babatan pilang XIV G1-28 wiyung
Sidoarjo
  • Vivotour - Plaza sepanjang blok A 11, Taman Sepanjang ,
Malang
  • Resto Inggil - Jl. Gajahmada 4

Untuk informasi lebih lanjut hubungi :
Telp. 0811362950 / 081937035609 / 08557992350
Email : info@tretesnightrun.com

November 05, 2014

Upacara Karo


Upacara Karo adalah upacara keagaam Agama Hindu serta bukan merupakan upacara Kebiasaan Istiadat, hal semacam ini telah dapat dibuktikan karena adanya prasasti Walandit yang mengatakan bahwa pada saat saat sebelum dan setelah kerajaan majapahit Gunung Bromo merupakan tempat yang mejadi tempat pemujaan Pada Shang Swayambu (Dewa Brahma) dan Tanah Hila-Hila (Tanah Suci) yang di huni oleh Ulun Hyang (Resi/Abdi Dewata) yang pada awal mulanya bernama " Rata Cemara Sewu ". 
KARO (Pawedalan jagad) : yakni dua unsur (Purusa serta prakerti) /unsur pemicu kehidupan didalam alam semesta. Dalam melakukan upacara karo Umat Hindu Tengger akan membuat sesaji dan salah satu diantaranya yaitu " PETRA " (Leluhur) /Pitra di mana upacara ini dipimpin oleh Dukun Pandhita serta di laksaksanakan di tiap-tiap rumah Umat Hindu Tengger. Salah satu rangkaian Sesaji ini terlihat bahwa semua upacara yang ada di tengger merupakan upacara Agama Hindu dan bukan merupakan upacara Adat, yaitu Ngentas Leluhur yang di simbulkan dengan " Petra" dengan tujuan yaitu "ngentas" / yadnya suci kepada Leluhur. Dalam Agama Hindu mengenal PITRA YADNYA (persembahan tulus ikhlas kepada para Leluhur), tidak hanya itu fungsi dari upacara karo ini adalah memuliakan Leluhur Umat Hindu Tengger terutama EYANG RORO ANTENG DAN JOKO SEGER. Jelas sekali bahwa Petra merupakan salah wujud rangkain upacara Agama Hindu yaitu Pitra Yadnya yang di sebutkan dalam Agama Hindu. 
Masyarakat Suku Tengger di Gunung Bromo menggelar ritual tradisi Karo (kedua) setelah merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan tradisi Karo ini diawali dengan tarian ritual tarian sodoran, sebagai wujud rasa syukur kepada para leluhur.


Tarian Sodoran ini adalah ritual suci yang melambangkan pertemuan dua bibit manusia yakni laki-laki dan perempuan yang mengawali kehidupan di alam semeseta. Pertemuan dua manusia yakni Joko Seger dan Roro Anteng inilah yang dipercaya sebagai cikal bakal tumbuhnya masyarakat Suku Tengger.
Simbol tarian sodoran yang hanya dipertunjukkan pada Hari Raya Karo ini ditandai dengan sebuah tongkat bambu berserabut kelapa yang didalamnya terdapat biji-bijian palawija. Biji-bijian yang dipecahkan dari dalam tongkat ini dipercaya akan memberikan rejeki keturunan bagi pasangan keluarga yang belum memiliki anak.

November 02, 2014

Candi Jawi

Candi Jawi (nama asli: Jajawa) adalah candi yang dibangun sekitar abad ke-13 dan merupakan peninggalan bersejarah Hindu-Buddha Kerajaan Singhasari yang terletak di terletak di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.
Candi Jawi menempati lahan yang cukup luas, sekitar 40 x 60 meter persegi, yang dikelilingi oleh pagar bata setinggi 2 meter. Bangunan candi dikelilingi oleh parit yang saat ini dihiasi oleh bunga teratai. Bentuk candi berkaki Siwa, berpundak Buddha. Ketinggian candi ini sekitar 24,5 meter dengan panjang 14,2 m dan lebar 9,5 m.[1] Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah dengan atap yang bentuknya merupakan paduan antara stupa dan kubus bersusun yang meruncing pada puncaknya. Pintunya menghadap ke timur. Posisi pintu ini oleh sebagian ahli dipakai alasan untuk mempertegas bahwa candi ini bukan tempat pemujaan atau pradaksina (upacara penghormatan terhadap dewa, disebut Dewayadnya atau dewayajña), karena biasanya candi untuk peribadatan menghadap ke arah gunung, tempat yang dipercaya sebagai tempat persemayaman kepada Dewa. Candi Jawi justru membelakangi Gunung Penanggungan. Sementara ahli lain ada pula yang beranggapan bahwa candi ini tetaplah candi pemujaan, dan posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung karena pengaruh dari ajaran Budha.
Keunikan Candi Jawi adalah adanya relief di dindingnya. Sayangnya, relief ini belum bisa dibaca. Bisa jadi karena pahatannya yang terlalu tipis, atau karena kurangnya informasi pendukung, seperti dari prasasti atau naskah. Disamping relief yang terletak dibagian dinding candi, terdapat pula relief lain yang terletak dibagian dalam candi. Terletak tepat dibagian tengah candi yang merupakan bagian tertinggi dari bagian dalam candi, terdapat sebuah relief Dewa Surya yang terpahat jelas. Keunikan lain dari Candi Jawi adalah batu yang dipakai sebagai bahan bangunannya terdiri dari dua jenis. Bagian bawah terdiri dari batu hitam, sedangkan bagian atas batu putih. Sehingga timbul dugaan bahwa bisa jadi candi ini dibangun dalam dua periode yang berbeda teknik bangunan.

Oktober 17, 2014

Candi Gunung Gangsir

Candi Gunung Gangsir adalah sebuah candi yang terletak di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Nama candi ini masih merupakan mitos penduduk sekitar, yaitu bahwa nama 'gunung' diambil dari keberadaan bangunan candi ini pada masa lampau yang dilingkupi oleh gunung. Sedangkan kata gangsir (Jawa: nggangsir) berarti menggali lubang di bawah permukaan tanah.

Bangunan candi yang terbentuk terbuat dari batu bata ini, memiliki 4 lantai, dengan dua lantai dasar yang merupakan tubuh dan atap candi yang sebenarnya. Denah lantai dasar merupakan segi empat dengan sebuah tonjolan pada sisi timur, berlawanan arah dengan keletakan tangga. Denah tubuh dan atap candi juga segi empat, tetapi pada bagian ini keempat sisi dinding tubuh candi memiliki sebuah bidang tonjolan yang ramping. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yaitu sekitar abat ke-11 M.

Menurut keterangan penduduk, nama Candi Gunung Gangsir muncul ketika pada suatu saat ada seseorang yang berusaha 'menggangsir' gunung ini untuk mencuri benda-benda berharga di dalam bangunan candi ini. Maka dikenallah bangunan candi ini dengan nama Candi Gunung Gangsir.




Oktober 10, 2014

Taman Candra Wilwatikta

Candra Wilwatikta yang  artinya Sinar Majapahit merupakan sebuah taman budaya yang telah dikenal dengan pagelaran sendra tarinya, dengan luas 13 Ha. Berada di tepi Jalan Raya Tretes Pandaan, dibangun pada 28 Oktober 1963 oleh Kolonel M. Wijono, Gubernur Jawa Timur saat itu, bersama Mayor M. Said, dan Ibu Dar Mortir dengan Visi utamanya adalah untuk menegakkan dan mengembangkan kepribadian budaya nasional serta kepariwisataan dengan semangat gotong royong. Sehingga mempunyai misi untuk menyediakan dan menyelenggarakan sarana dan kegiatan bagi berkembangnya budaya nasional dan kepariwisataan secara mandiri.  Sesuai visi dan misi utamanya untuk mengembangkan kepribadian budaya nasional, Taman Candra Wikwatikta Pandaan tak pernah sepi dari kegiatan seni dan kebudayaan. Bahkan di Panggung Terbuka Candra Wilwatikta, Pandaan ini juga pernah digelar Sendratari Ramayana Internasional.

Grand Final Raka Raki 2013 di Taman Candra Wilwatikta

Taman Candra Wilwatikta Pandaan juga dilengkapi fasilitas pendapa (hall) dengan kapasitas 500 orang, ruang rapat R. Wijaya dengan kapasitas 100 orang, ruang pamer, serta vila sebanyak 14 unit, dan paviliun dengan kapasitas 150 orang. Dilengkapi dengan kebun yang rindang, gedung pertemuan, fasilitas olahraga dan pentas budaya. Sebuah alternatif untuk rapat kerja, pelatihan dan pendidikan, Inbound-Outbound Training, jauh dari kebisingan kota, nyaman dengan pesona alam pedesaan, kamar untuk jumlah rombongan atau perorangan disediakan sebagai tempat istirahat sambil menikmati pemandangan alam dengan latar belakang Gunung Penanggungan, sekaligus menikmati hidangan khas.


 

Oktober 06, 2014

LOMBA FOTO KOSTUM HORROR BERSAMA SATWA



Ketentuan :
 
- Terbuka untuk masyarakat umum
 
- Tidak dipungut biaya apapun. 

Kriteria Foto :
 
-  Foto yang dikirimkan belum pernah memenangkan Lomba Foto manapun.
 
- Pemotretan harus dilakukan dengan menggunakan kamera digital dengan merk bebas.
 
- Foto yang dikirimkan tidak melanggar hak cipta (bukan foto milik orang/organisasi lain). Peserta menjamin bahwa mereka memiliki hak penuh atas foto yang dikirim, dan penyelenggara dibebaskan dari segala bentuk pertanggungjawaban apabila peserta melakukan pelanggaran dalam hal ini.
 
Obyek foto :

- Peserta menggunakan kostum horor berfoto dengan segala jenis satwa, termasuk jenis burung, serangga, maupun satwa peliharaan.
 
- Lokasi pemotretan bebas.

Mekanisme Pengumpulan Foto :

Ø  Foto dikirimkan via email lomba_tsi2@tamansafari.net maximal satu foto.

Ø  Bagi para peserta yang mengirim foto via email maximal pukul 16:00 WIB, foto akan di upload di facebook Taman Safari Prigen dan di fanpage (Taman Safari Indonesia 2 dan Taman Safari Indonesia II Pasuruan) di hari yang sama.

Ø  Bagi para peserta yang mengirim foto via email melebihi pukul 16:00 WIB foto akan di share ke facebook Taman Safari Prigen dan di fanpage (Taman Safari Indonesia 2 dan Taman Safari Indonesia II Pasuruan) keesokan harinya.

Ø  Batas akhir pengiriman foto via email yaitu tanggal 19 Oktober 2014 pukul 16:00 WIB

Ø  Pengiriman foto via email harap dicantumkan Nama, Alamat, Kota, No.telepon, Alamat twitter dan Facebook
 
Penjurian dan Pengumuman Pemenang :

o Penjurian berdasarkan jumlah likes terbanyak
o setelah foto di upload voting sudah bisa dimulai
o Batas Waktu likes pada tanggal 21 Oktober 2014 pukul 00:00 WIB
o Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, serta tidak diadakan surat menyurat.
o Penyelenggara tidak melayani segala tuntutan dari pihak manapun mengenai isi foto peserta yang dilombakan.
o Foto pemenang dapat digunakan untuk kepentingan Taman Safari penggunaan foto yang tidak menang untuk kepentingan promosi Taman Safari Indonesia didiskusikan terlebih dahulu dengan pemilik foto.
o Pemenang akan diumumkan di website www.tamansafari2.com  pada tanggal 23  Oktober 2014.


Pemenang akan diundang pada penyerahan hadiah tanggal 26 Oktober 2014 di Taman Safari Indonesia 2 Prigen Pasuruan Jawa Timur pukul 10:00 WIB.


September 26, 2014

Tari Terbang Rudat


Tari Terbang Rudat meruapakan salah satu kesenian daerah di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Tari ini merupakan kesenian berkarakter agama islam yang dibawakan oleh para penari, vokalis dan pemain musik Rudat, dimana kolaborasi mereka harus tidak ada ketimpangan antara tarian, vokal, dan musik agar terlihat selaras. Lirik lagu yang dibawakan kesenian yang diiringi dengan musik terbang ini berisi lagu sanjungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ragam gerak Tari Terbang Rudat terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pembuka, isi, dan penutup. Makna simbolik ragam gerak secara garis besar adalah mengajak umat untuk memasuki agama Islam yang terdapat pada ragam gerak jalan masuk dan ragam gerak jengket/duduk, makna simbolik kepahlawanan tergambar pada ragam gerak pencakan serta yang terakhir makna simbolik untuk menghormati leluhur dan menjaga kehidupan sosial terdapat pada ragam gerak hormat, roda berputar dan mbabat alas. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan untuk menjadi perhatian dan pemahaman terutama para guru tari untuk menyampaikan makna simbolik di dalam satu gerak tari kepada sisiwa. Seperti pentingnya menghormati leluhur, menjaga silaturahim, serta beriman kepada Allah SWT.

Tari Terbang Rudat yang dibawakan oleh remaja putri dan diiringi dengan musik terbang dan lagu sanjungan kepada Tuhan Yang Maha Esa ini berkembang didaerah Kecamatan Purwosari dan Kecamatan Purwodadi yang menjadi tarian khas Kabupaten Pasuruan.


.
.